gonoblenore

BAB I
PENDAHULUAN
Gonoblenore adalah radang selaput lendir mata yang sangat mendadak
ditandai dengan getah mata yang bernanah yang kadang-kadang bercampur
darah yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonoroika. Proses peradangan yang sangat mendadak pada selaput lendir mata dapat
disebabkan oieh Neisseria gonoroika, yaitu kuman-kuman berbentuk
bulat, yang sering menjadi penyebab uretritis (radang saluran kemih)
pada pria dan vaginitis (radang kemaluan) pada wanita. Proses ini dapat menyebar ke organ di sekitarnya.

Dan tanda vaginitis pada wanita adalah adanya getah yang keluar lewat
kemaluan bernanah. Penyakit Gonoblenore dapat terjadi secara mendadak. Masa inkubasi
(mass mulai masuknya kuman sampai timbul gejala penyakit) dapat terjadi
beberapa jam sampai 3 hari. Keluhan utamanya adalah: mata merah bengkak,
dengan getah mata seperti nanah kadang bercampur darah. Laju infeksi dapat dikurangi dengan menghindari hubungan seksual dengan sembarang orang (bukan istri atau suaminya).
Pembasmian GO (Gonokkus) dengan cepat dari individu yang terinfeksi
dengan cara diagnosa dini dan pengobatan, dan penemuan kasus dan kontak
melalui pendidikan dan penyaringan penduduk yang mempunyai resiko
tinggi.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Gonoblenore
Gonoblenore adalah suatu manifestasi dari penyakit infeksi konjungtiva mata yang pengertiannya sendiri adalah radang selaput lendir mata yang sangat mendadak
ditandai dengan getah mata yang bernanah yang kadang-kadang bercampur
darah yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonoroika.
2. Etiologi Gonoblenore
Gonoblenore yang disebabkan kuman Neisseria gonoroika sangat berbahaya sebab dapat menembus kornea mata yang utuh, ini dikarenakan kuman ini mempunyai enzim-enzim penghancur yang dapat merusak (menghancurkan kornea).Biasanya dalam waktu 2-3 hari jika terlambat dalam pengobatan maka komea sudah hancur.
Jika kornea hancur maka jelas dari penglihatan akan sangat turun. Di samping itu jika tidak segera diobati maka kuman akan dapat menjalar ke seluruh isi bola mata. Jika sudah begini maka semua bola mata harus diangkat (diambil) sehingga penderita rongga
matanya akan kosong karena tidak ada isinya.
3. Tanda dan Gejala Gonoblenore
Penyakit Gonoblenore dapat terjadi secara mendadak. Masa inkubasi
(mass mulai masuknya kuman sampai timbul gejala penyakit) dapat terjadi
beberapa jam sampai 3 hari. Keluhan utamanya adalah: mata merah bengkak,
dengan getah mata seperti nanah kadang bercampur darah. Jika ada orang
dengan gejala-gejala seperti di atas, tanya dais apakan baru-baru
ini dia berganti pasangan seksualnya. Jika benar, maka kemungkinan
besar terkena Gonoblenore. Langsung bawa ke Rumah Sakit untuk
menyakinkan penyebabnya dan untuk pengobatan lebih lanjut yang segera,
karena mengingat bahayanya yang sedemikian hebat.
Bayi urnur kurang dari 1 tahun juga hisa terkena penyakit ini, biasanya
didapatkan karena tertu!ar oleh ibunya, pada waktu melewati jalan
lahir. Namun pada bayi ini biasanya yang kena kedua mata langsung.
Bayi umur kurang dari 5 tahun bila terkena, biasanya berarti ada kontak
dengan orang tuanya.Pengobatan Gonoblenore ini harus benar-benar
intensit, sebab jika tidak, dapat terjadi pecahnya kornea
4. Patofisiologi Gonoblenore
Proses peradangan yang sangat mendadak pada selaput lendir mata dapst
disebabkan oieh Neisseria gonoroika, yaitu kuman-kuman berbentuk
bulat, yang sering menjadi penyebab uretritis (radang saluran kemih)
pada pria dan vaginitis (radang kemaluan) pada wanita. Tanda uretritis
pada pria di antaranya adalah keluarnya nanah berwarna krem kuning
dan berkemih yang sakit. Proses ini dapat menyebar ke organ di sekitarnya.
Dan tanda vaginitis pada wanita adalah adanya getah yang keluar lewat
kemaluan bernanah.
Proses ini juga dapat menyebar ke organ di sekitarnya yaitu saluran
telur, yang lama-kelamaan dapat berakibat kemandulan. Sedangkan timbulnya
uretritis dan vaginitis ini dapat terjadi karena penderita berganti-ganti
pasangan seksualnya lnfeksi pada mata ini dapat terjadi karena adanya
kontak langsung antara neisseria pada kemaluan dengan lapisan mata
luar.
Kontak ini biasanya akibat setelah memegang kemaluan kemudian dipakai
menggosok lapisan mata luar.Tetapi kontak ini juga dapat terjadi
lewat penularan handuk yang dipakai.Karena kebanyakan orang memakai
tangan kanannya untuk beraktifitas, maka setelah memegang kemaluan
dengan tangan kanan kemudian dipakai untuk menggosok mata, maka kebanyakan
mata yang terkena Gonoblenore adalah mata kanan.Akan tetapi
lama kelamaan menyebar ke yang kiri.

5. Pemeriksaan Penunjang Gonoblenore
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.
6. Pengobatan Gonoblenore
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %).
7. Pencegahan Gonoblenore
Kuman GO (Gonoroika) tersebar luas di dunia, dan angka kejadiannya
terus meningkat sejak 1995.Penyakit hampir semata-mata dipindahkan
dengan kontak seksual, terutama oleh wanita dan laki-laki yang mempunyai
infeksi menahun yang tidak tampak gejalanya.Sekali berhubungan dengan
pasangan seksual yang terinfeksi kemungkinannya 20-30% (atau lebih
besar) akan terkena infeksi.
Laju infeksi dapat dikurangi dengan menghindari
hubungan seksual dengan sembarang orang (bukan istri atau suaminya).
Pembasmian GO (Gonokkus) dengan cepat dari individu yang terinfeksi
dengan cara diagnosa dini dan pengobatan, dan penemuan kasus dan kontak
melalui pendidikan dan penyaringan penduduk yang mempunyai resiko
tinggi. GO pada bayi dicegah dengan pemberian obat lokal zat bakterisidat
terhadap Gonokokus bila terjadi kontak pada selaput lendir
mata bayi-bayi yang baru lahir, misalnya perak nitrat 1%.

8. Pathways Gonoblenore

Epilepsi

A. Pengertian
Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersifat reversibel (Tarwoto, 2007)
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000)
Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neuron-neuron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik (anonim, 2008)
B. Etiologi
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (Idiopatik) Sering terjadi pada:
1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol
4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
5. Tumor Otak
6. Kelainan pembuluh darah
(Tarwoto, 2007)
Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab utama, ialah epilepsi idopatik, remote symptomatic epilepsy (RSE), epilepsi simtomatik akut, dan epilepsi pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan otak pada saat peri- atau antenatal. Dalam klasifikasi tersebut ada dua jenis epilepsi menonjol, ialah epilepsi idiopatik dan RSE. Dari kedua tersebut terdapat banyak etiologi dan sindrom yang berbeda, masing-masing dengan prognosis yang baik dan yang buruk.
Epilepsi simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak jelas pada CT scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun kerusakan otak yang tak jelas tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan defisit neurologik yang jelas. Sementara itu, dipandang dari kemungkinan terjadinya bangkitan ulang pasca-awitan, definisi neurologik dalam kaitannya dengan umur saat awitan mempunyai nilai prediksi sebagai berikut:
Apabila pada saat lahir telah terjadi defisit neurologik maka dalam waktu 12 bulan pertama seluruh kasus akan mengalami bangkitan ulang, Apabila defisit neurologik terjadi pada saat pascalahir maka resiko terjadinya bangkitan ulang adalah 75% pada 12 bulan pertama dan 85% dalam 36 bulan pertama. Kecuali itu, bangkitan pertama yang terjadi pada saat terkena gangguan otak akut akan mempunyai resiko 40% dalam 12 bulan pertama dan 36 bulan pertama untuk terjadinya bangkitan ulang. Secara keseluruhan resiko untuk terjadinya bangkitan ulang tidak konstan. Sebagian besar kasus menunjukan bangkitan ulang dalam waktu 6 bulan pertama.
Epilepsi dapat dibagi dalam tiga golongan utama antara lain:
a. Epilepsi Grand Mal
Epilepsi grand mal ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang berlebihan dari neuron diseluruh area otak-di korteks, di bagian dalam serebrum, dan bahkan di batang otak dan talamus. Kejang grand mal berlangsung selama 3 atau 4 menit.
b. Epilepsi Petit Mal
Epilepsi ini biasanya ditandai dengan timbulnya keadaan tidak sadar atau penurunan kesadaran selama 3 sampai 30 detik, di mana selama waktu serangan ini penderita merasakan beberapa kontraksi otot seperti sentakan (twitch- like),biasanya di daerah kepala, terutama pengedipan mata.
c. Epilepsi Fokal
Epilepsi fokal dapat melibatkan hampir setiap bagian otak, baik regio setempat pada korteks serebri atau struktur-struktur yang lebih dalam pada serebrum dan batang otak. Epilepsi fokal disebabkan oleh resi organik setempat atau adanya kelainan fungsional.
C. PATOFISIOLOGI.
Menurut para penyelidik bahwa sebagian besar bangkitan epilepsi berasal dari sekumpulan sel neuron yang abnormal di otak, yang melepas muatan secara berlebihan dan hypersinkron. Kelompok sel neuron yang abnormal ini, yang disebut juga sebagai fokus epileptik mendasari semua jenis epilepsi, baik yang umum maupun yang fokal (parsial). Lepas muatan listrik ini kemudian dapat menyebar melalui jalur-jalur fisiologis-anatomis dan melibatkan daerah disekitarnya atau daerah yang lebih jauh letaknya di otak. Tidak semua sel neuron di susunan saraf pusat dapat mencetuskan bangkitan epilepsi klinik, walaupun ia melepas muatan listrik berlebihan. Sel neuron diserebellum di bagian bawah batang otak dan di medulla spinalis, walaupun mereka dapat melepaskan muatan listrik berlebihan, namun posisi mereka menyebabkan tidak mampu mencetuskan bangkitan epilepsi. Sampai saat ini belum terungkap dengan pasti mekanisme apa yang mencetuskan sel-sel neuron untuk melepas muatan secara sinkron dan berlebihan (mekanisme terjadinya epilepsi).
Secara Patologi :
Fenomena biokimia sel saraf yang menandai epilepsi :
1. Ketidakstabilan membran sel saraf.
2. Neuron hypersensitif dengan ambang menurun.
3. Polarisasi abnormal.
4. Ketidakseimbangan ion.


Tanda dan gejala
Penatalkasanaan
pencegahan

D. Pathways



E. Manifestasi klinik
1. Manifestasi klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau gangguan penginderaan
2. Kelainan gambaran EEG :....
3. Tergantung lokasi dan sifat Fokus Epileptogen
4. Dapat mengalami Aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik (Aura dapat berupa perasaan tidak enak, melihat sesuatu, men cium bau-bauan tak enak, mendengar suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala dan sebagainya)
F. Klasifikasi kejang
1. Kejang Parsial
a. Parsial Sederhana
Gejala dasar, umumnya tanpa gangguan kesadaran. Misal: hanya satu jari atau tangan yang bergetar, mulut tersentak dengan gejala sensorik khusus atau somatosensorik seperti: mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak umum/tdk nyaman
b. Parsial Kompleks
Dengan gejala kompleks, umumnya dengan ganguan kesadaran. Dengan gejala kognitif, afektif, psiko sensori, psikomotor. Misalnya: individu terdiam tidak bergerak atau bergerak secara automatik, tetapi individu tidak ingat kejadian tersebut setelah episode epileptikus tersebut lewat
2. Kejang Umum (grandmal)
Melibatkan kedua hemisfer otak yang menyebabkan kedua sisi tubuh bereaksi Terjadi kekauan intens pada seluruh tubuh (tonik) yang diikuti dengan kejang yang bergantian dengan relaksasi dan kontraksi otot (Klonik) Disertai dengan penurunan kesadaran, kejang umum terdiri dari:
a. Kejang Tonik-Klonik
b. Kejang Tonik : keadaan kontinyu
c. Kejang Klonik : Kontraksi otot mengejang
d. Kejang Atonik : Tidak adanya tegangan otot
e. Kejang Myoklonik : kejang otot yang klonik
f. Spasme kelumpuhan
g. Tidak ada kejang
h. Kejang Tidak Diklasifikasikan/ digolongkan karena datanya tidak lengkap.
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pungsi Lumbar
Pungsi lumbar adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis. Pemeriksaan ini dilakukan setelah kejang demam pertama pada bayi.
a. Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh : kaku leher)
b. Mengalami complex partial seizure
c. Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48 jam sebelumnya)
d. Kejang saat tiba di IGD (instalasi gawat darurat)
e. Keadaan post-ictal (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah normal.
f. Kejang pertama setelah usia 3 tahun
Pada anak dengan usia > 18 bulan, pungsi lumbar dilakukan jika tampak tanda peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti itu pungsi lumbar sangat dianjurkan untuk dilakukan.
2. EEG (electroencephalogram)
EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidaknormalan gelombang. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada kejang demam yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit (kelainan) neurologis. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang demam atau segera setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan timbulnya kejang tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh gambaran gelombang yang abnormal setelah kejang demam, gambaran tersebut tidak bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko epilepsi.
3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan seperti pemeriksaan darah rutin, kadar elektrolit, kalsium, fosfor, magnsium, atau gula darah tidak rutin dilakukan pada kejang demam pertama. Pemeriksaan laboratorium harus ditujukan untuk mencari sumber demam, bukan sekedar sebagai pemeriksaan rutin.
4. Neuroimaging
Yang termasuk dalam pemeriksaan neuroimaging antara lain adalah CT-scan dan MRI kepala. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan pada kejang demam yang baru terjadi untuk pertama kalinya.
H. Pencegahan
Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan untuk pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsi yang digunakan sepanjang kehamilan. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang dapat dicegah. Melalui program yang memberi keamanan yang tinggi dan tindakan pencegahan yang aman, yaitu tidak hanya dapat hidup aman, tetapi juga mengembangkan pencegahan epilepsi akibat cedera kepala. Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar belakang sukar melahirkan, pengguna obat-obatan, diabetes, atau hipertensi) harus di identifikasi dan dipantau ketat selama hamil karena lesi pada otak atau cedera akhirnya menyebabkan kejang yang sering terjadi pada janin selama kehamilan dan persalinan.
Program skrining untuk mengidentifikasi anak gangguan kejang pada usia dini, dan program pencegahan kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obat anti konvulsan secara bijaksana dan memodifikasi gaya hidup merupakan bagian dari rencana pencegahan ini.
I. Pengobatan
Pengobatan epilepsi adalah pengobatan jangka panjang. Penderita akan diberikan obat antikonvulsan untuk mengatasi kejang sesuai dengan jenis serangan. Penggunaan obat dalam waktu yang lama biasanya akan menyebabkan masalah dalam kepatuhan minum obat (compliance) seta beberapa efek samping yang mungkin timbul seperti pertumbuhan gusi, mengantuk, hiperaktif, sakit kepala, dll.
Penyembuhan akan terjadi pada 30-40% anak dengan epilepsi. Lama pengobatan tergantung jenis epilepsi dan etiologinya. Pada serangan ringan selama 2-3th sudah cukup, sedang yang berat pengobatan bisa lebih dari 5th. Penghentian pengobatan selalu harus dilakukan secara bertahap. Tindakan pembedahan sering dipertimbangkan bila pengobatan tidak memberikan efek sama sekali.
Penanganan terhadap anak kejang akan berpengaruh terhadap kecerdasannya. Jika terlambat mengatasi kejang pada anak, ada kemungkinan penyakit epilepsi, atau bahkan keterbalakangan mental. Keterbelakangan mental di kemudian hari. Kondisi yang menyedihkan ini bisa berlangsung seumur hidupnya.
J. KOMPLIKASI
1. Kerusakan otak akibat hipeksia dan retardasi mental dapat timbul akibat kejang yang berulang
2. Dapat timbul depresi dan keadaan cemas ( Elizabeth, 2001 : 174 )

kistoma Ovarii

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Ovarium merupakan tempat yang umum bagi kista, yang dapat merupakan pembesaran sederhana konstituen ovarium normal, folikel graft, atau korpus luteum, atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan abdomen dari epithelium ovarium.
Pasien dapat melaporkan atau tidak melaporkan nyeri abdomen akut atau kronik. Gejal-gejala tentang rupture kista menstimulasi berbagai kedaruratan abdomen akut, seperti apendisitis, atau kehamilan ektopik. Kista yang lebih besar dapat menyebabkan pembengkakan abdomen dan penekanan pada organ-organ abdomen yang berdekatan.
Pengobatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah. Jika ukuran lebar kista kurang dari 5 cm, dan tampak terisi oleh cairan atau fisilogis pada pasien muda yang sehat, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kista. Sekitar 98 % lesi yang terjadi pada wanita yang berumur 29 tahun dan yang lebih muda adalah jinak. Setelah usia 50 tahun, hanya 50 % yang jinak. Perawatan pascaoperatif setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen, dengan satu pengecualian. Penurunan tekanan intraabdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat. Komplikasi ini dapat dicegah sampai suatu tingkat dengan memberikan gurita abdomen yang ketat.
Dari uraian di atas, maka penulis ingin mengetahui lebih banyak bagaimana asuhan keperawatan yang diberikam pada penderita kistoma ovari.
2. Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kista ovari


3. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan kista ovari
b. Mampu menemukan masalah keperawatan pada klien dengan kista ovari
c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan kista ovari
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan kista ovari
e. Mampu mengevaluasi tindakan yang sudah dilakukan pada klien dengan kista ovari
f. Mampu mengidentifikasi factor-faktor pendukung, penghambat serta dapat mencari solusinya.
g. Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk narasi.


BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Kistoma ovari merupakan suatu tumor, baik yang kecil maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas (Winkjosastro. et.all. 1999).
Dalam kehamilan tumor ovarium yang dijumpai yang paling sering adalah kista dermonal, kista coklat atau kista lutein, tumor ovarium yang cukup besar dapat disebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala kedalam panggul.

B. ETIOLOGI
Menurut etiologi, kista ovarium dibagi menjadi 2, yaitu : (Ignativicus, bayne, 1991)
1. Kista non neoplasma
Disebabkan karena ketidak seimbangan hormon esterogen dan progresterone diantaranya adalah :
a. Kista non fungsional
Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang berkurang di dalam korteks
b. Kista fungsional
- Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler di antara siklus menstruasi. Banyak terjadi pada wanita yang menarche kurang dari 12 tahun.
- Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi progesterone setelah ovulasi.
- Kista tuba lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa.
- Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan hiperstimuli ovarium.
2. Kista neoplasma (Winjosastro. et.all 1999)
a. Kistoma ovarii simpleks
Adalah suatu jenis kista deroma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista
b. Kistodenoma ovarii musinoum
Asal kista ini belum pasti, mungkin berasal dari suatu teratoma yang pertumbuhanya I elemen mengalahkan elemen yang lain
c. Kistodenoma ovarii serosum
Berasal dari epitel permukaan ovarium (Germinal ovarium)
d. Kista Endrometreid
Belum diketahui penyebab dan tidak ada hubungannya dengan endometroid
e. Kista dermoid
Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis.
f. Kista endrometroid
Belum diketahui penyebab dan tidak ada hubungannya dengan endometroid
g. Kista dermoid
Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis

C. PATHOFISIOLOGI
1. Kista non neoplasma (Ignativicius bayne, 1991)
a. Kista non fungsional
Kista inkulasi dalam konteks yang dalam timbul ivaginasi dan permukaan epitelium yang berkurang. Biasanya tunggal atau multiple, berbentuk variabel dan terbatas pada cuboidal yang tipis, endometri atau epitelium tuba berkurang 1 cm sampai beberapa cm.
b. Kista fungsional
i. Kista folikel, kista di bentuk ketika folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler di antara siklus menstruasi. Bila ruptur menyebabkan nyeri akut pada pelvis, evaluasi lebih lanjut dengan USG atau laparaskopi. Operasi dilakukan pada wanita sebelum pubertas, setelah menopause atau kista lebih dari 8 cm.
ii. Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi progresterone setelah ovulasi. Ditandai dengan keterlambatan menstruasi atau menstruasi yang panjang, nyeri abdomen bawah pelvis. Jika ruptur perdarahan intraperitorial, terapinya adalah operasi ooverektomi.
iii. Kista tuba lutein, ditemui pada kehamilan mola, terjadi pada 50 % dari semua kehamilan dibentuk sebagai hasil lamanya stimulasi ovarium, berlebihnya HCG. Tindakanya adalah mengangkat mola.
iv. Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan hiperstimuli ovarium dengan produk kista yang banyak. Hiperplasi endometrim atau kariokarsinoma dapat terjadi pengobatan dengan kontrasepsi oral untuk menekan produksi 1.11dan oovorektomi.
2. Kista Neoplasma Jinak (Winkjosastro.et.all. 1999).
a. Kistoma ovarii simpleks. Kista ini bertangkai dan dapat menyebabkan torsi (putaran tingkai). Diduga kista ini adalah jenis kista denoma serosum yang kehilangan kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista. Tindakannya adalah pengangkatan kista dengan reseksi ovarium.
b. Kistoderoma ovarii musinosum. Asal kista ini belum pasti, namun diduga berasal dari suatu teratoma yang pertumbuhanya 1 elemen mengalahkan elemen yang lain atau berasal dari epitel germinativum.
c. Kristoderoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan ovarium (Germinal ovarium). Bila kista terdapat implantasi pada peritoneum disertai asites maka harus dianggap sebagai neoplasma yang ganas dan 30 % sampai 50 % akan mengalami keganasan.
d. Kista endrometroid. Kista biasanya unilateral dengan permukaan licin, pada dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel yang menyerupai lapisan epitel endometrium,
e. Kista dermoid. Pada suatu teratoma kistik yang jinak dimana struktur-struktur ektoderma dengan deferensiasi sempurna seperti epitel kulit, rambut, gigi dan produk glandula sebastea putih menyerupai lemak nampak lebih menonjol dari pada elemen-elemen aktoderm. Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis.

D. PATHWAYS



E. GAMBARAN KLINIS
Mayoritas penderita tumor ovarium tidak menunjukan adanya gejala sampai periode wamtu tertentu. Hal ini disebabkan perjalanan penyakit ini berlangsung secara tersembunyi sehingga diagnosa sering ditemukan pada saat pasien dalam keadaan stadium lanjut sampai pada waktu klien mengeluh adanya ketidakteraturan menstruasi, nyeri pada perut bawah, rasa sebah pada perut dan timbul benjol pada perut.
Pada umumnya kista denoma ovarii serosim tak mempunyai ukuran yang amat besar dibandingkan dengan kista denoma musinosu,. Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi dapat pula berbagala karena ovarium pun dapat berbentuk multivokuler. Meskipun lazimnya berongga satu, warna kista putih keabu-abuan. Ciri khas kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler kedalam rongga kista sebesar 0 % dan keluar pada permukaan kista sebesar 5 % isi kista cair kuning dan kadang-kadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiripun kecil tetapi permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma).
F. DIAGNOSA
Apabila pada pemeriksaan ditemukan tumor di rongga perut bagian bawah dan atau di rongga panggul, maka setelah diteliti sifat-sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan, konsistensi, apakah dapat digerakkan atau tidak), perlulah ditentukan jenis tumor tersebut. Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri, terpisah dari tumor. Jika tumor ovarium terletak di garis tengah dalam rongga perut bagian bawah dan tumor itu konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya adanya kehamilan atau kandung kemih penuh, sehingga pada anamnesis perlulah lebih cermat dan disertai pemeriksaan tambahan.16
Di negara-negara berkembang, karena tidak segera dioperasi tumor ovarium bisa menjadi besar, sehingga mengisi seluruh rongga perut. Dalam hal ini kadang-kadang sukar untuk menentukan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor atau ascites, akan tetapi dengan pemeriksaan yang dilakukan dengan teliti, kesukaran ini biasanya dapat diatasi.
Apabila sudah ditentukan bahwa tumor yang ditemukan ialah tumor ovarium, maka perlu diketahui apakah tumor itu bersifat neoplastik atau nonneoplastik. Tumor nonneoplastik akibat peradangan umumnya dalam anamnesis menunjukkan gejala-gejala ke arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan tumor-tumor akibat peradangan tidak dapat digerakkan karena perlengketan. Kista nonneoplastik umumnya tidak menjadi besar, dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang sendiri.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak jarang tentang penegakkan diagnosis tidak dapat diperoleh kepastian sebelum dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari gejala-gejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan differensial diagnosis. 16
16 Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis adalah
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat tumor itu.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapat pula dibedakan antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak.
3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam tumor.
4. Parasintesis
Pungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perlu diperhatikan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista bila dinding kista tertusuk
H. Penanganan
Prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor nonneoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium yang tidak memberikan gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi 5 cm diameternya, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus luteum. Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang, sehingga perlu diambil sikap untuk menunggu selama 2-3 bulan, jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat neoplastik dan dapat dipertimbangkan untuk pengobatan operatif.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor, akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertai dengan pengangkatan tuba (salphyngoooforektomi). Jika terdapat keganasan operasi yang lebih tepat ialah histerektomi dan salphyngoooforektomi bilateral. Akan tetapi pada wanita muda yang masih ingin mendapat keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah, dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil resiko dengan melakukan operasi yang tidak seberapa radikal.
I. PENGOBATAN
Umumnya kista ovarium pada wanita usia subur akan menghilang dengan sendirinya dalam 1 sampai 3 bulan. Meskipun ada diantaranya yang pecah namun tidak akan menimbulkan gejala yang berarti. Kista jenis ini termasuk jinak dan tidak memerlukan penanganan medis. Kista biasanya ditemukan secara tidak sengaja saat dokter melakukan pemeriksaan USG.
Meskipun demikian, pengawasan tetap harus dilakukan terhadap perkembangan kista sampai dengan beberapa siklus menstruasi. Bila memang ternyata tidak terlalu bermakna maka kista dapat diabaikan karena akan mengecil sendiri.
Pemeriksaan USG sangat berperanan dalam menentukan langkah penatalaksanaan kista ovarium. Dengan USG dapat dilihat besarnya kista, bentuk kista, isi dari kista dan lain sebagainya.
Jika memang kista ovarium tumbuh membesar dan menimbulkan keluhan akibat dari peregangan organ sekitar kista maka perlu dipertimbangkan untuk melakukan operasi pengangkatan kista. Jangan lupa untuk segera membawa jaringan kista ke laboratorium patologi anatomi untuk mengetahui kemungkinan kista tersebut berkembang menjadi kanker.
J. PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Tanpa memandang bentuk, proses penyembuhan luka adalah sama dengan yang lainnya. Perbedaan terjadi menurut waktu pada tiap-tiap fase penyembuhan dan waktu granulasi jaringan (long. 1996).
Fase-fase penyembuhan luka antara lain :
1. Fase I
Pada fase ini Leukosit mencerna bakteri dan jaringan rusak terbentuk fibrin yang menumpuk mengisi luka dari benang fibrin. Lapisan dari sel epitel bermigrasi lewat luka dan membantu menutupi luka, kekuatan luka rendah tapi luka dijahit akan menahan jahitan dengan baik.
2. Fase II
Berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah, leukosit mulai menghilang dan ceruk mulai kolagen serabut protein putih semua lapisan sel epitel bergenerasi dalam satu minggu, jaringan ikat kemerahan karena banyak pembuluh darah. Tumpukan kolagen akan menunjang luka dengan baik dalam 6-7 hari, jadi jahitan diangkat pada fase ini, tergantung pada tempat dan liasanya bedah.
3. Fase III
Kolagen terus bertumpuk, hal ini menekan pembuluh darah baru dan arus darah menurun. Luka sekarang terlihat seperti berwarna merah jambu yang luas, terjadi pada minggu ke dua hingga enam post operasi, pasien harus menjaga agar tak menggunakan otot yang terkena.
4. Fase IV
Berlangsung beberapa bulan setelah pembedahan, pasien akan mengeluh, gatal disekitar luka, walau kolagen terus menimbun, pada waktu ini menciut dan menjadi tegang. Bila luka dekat persendian akan terjadi kontraktur karena penciutan luka dan akan terjadi ceruk yang berlapis putih.
K. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada kista ovarium diantaranya :
Torsi
Ruptur
Perdarahan
Menjadi Keganansan : Potensi kistadenoma ovarium jinak menjadi ganas sudah dipostulasikan, kista dermoid dan endometriosis dapat berubah menjadi ganas, akan tetapi dalam persentase yang relative sedikit.

L. PROGNOSIS
William Helm, C. 2005. Dkk mengatakan :
Prognisis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral.
Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam stadium akhir.
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%, bervariasi antara 86.9% untuk stadium
FIGO Ia dan 11.1% untuk stadium IV.
Tumor sel granuloma memiliki angka bertahan hidup 82% sedangakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.
Sebagian besar tumor sel germinal yang terdiagnosis pada stadium awal memiliki prognosis yang sangat baik. Disgerminoma dengan stadium lanjut berkaitan dengan prognosis yang lebih baik dibandingkan germinal sel tumor nondisgerminoma.
Tumor yang lebih tidak agresif dengan potensi keganasan yang rendah mempunyai sifat yang lebih jinak tetapi tetap berhubungan dengan angka kematian yang tinggi. Secara keseluruhan angka bertahan hidup selama 5 tahun adalah 86.2%
M. PENATALAKSANAAN
Operatif dilakukan salfingo – farektomi (pengangkatan ovarium dan tuba falopi)
Masalah Keperawatan
 Pre Operasi
a. Nyeri
b. Cemas
c. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
d. Perubahan pola eliminasi feses
 Post Operasi
a. Nyeri
b. Resiko Infeksi
c. Resti kekurangan volume cairan



N. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian fokus
 Aktivitas / istirahat
Gejala : Kelemahan, perubahan kebiasaan tidur
 Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri dada saat aktifitas
 Eliminasi
Gejala : Perubahan pola defekasi dan eliminasi
 Neurosensori
Gejala : Pusing
 Kenyamanan / Nyeri
Gejala : Nyeri pada perut bawah
2. Diagnosa yang mucul
 Pre Oprasi
1. Nyeri b.d perjalanan proses penyakit
2. Cemas b.d krisis situasi menghadapi pembedahan
3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d tidak mengenal / kurang informasi
4. Perubahan eliminasi urine b.d penekanan jaringan usus
 Post Operasi
1. Nyeri b.d luka insisi bedah
2. Resiko infeksi b.d luka insisi bedah
3. Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui rute normal dan atau abnormal (luka)
3. Rencana keperawatan
a. Pre Operasi
Dx I : Nyeri b.d perjalanan proses penyakit
1. pantau / catat karakteristik nyeri, catat resp[on verbal dan non verbal
R/ Perilaku pasien karena nyeri dapat sebagai temuan
2. Ambil gambaran lengkap terhadap nyeri, berupa : Lokasi, intensitas, kualitas dan penyebarannya
R/ Mengetahui tingkat/status nyeri pasien untuk menentukan tindakan keperawatan
3. Atur lingkungan yang tenang dan nyaman
R/ Menurunkan rangsangan eksternal terhadap nyeri
4. Observasi tanda-tanda vital
R/ Mengetahui status keadaan / kondisi pasien
5. Anjurkan pasien untuk rileks, ajarkan latiha distraksi dan relaksasi
R/ Upaya mengurangi sensasi nyeri
6. Kolaborasi dengan medis dalam pemberian analgesik
R/ Mengurangi sensasi nyeri

Dx II : Cemas b.d krisis situasi menghadapi pembedahan
1. Identifiksi dan ketahuilah persepsi pasien tehadap nyeri
R/ Sebagai acuan terhadap rencana kperawatan
2. Dorong pasien untuk menyatakan perasaan dan berikan umpan balik
R/ membuat hubungan terapeutik dan membantu klien
3. Catat adanya kegelisahan dan perasaan menolak
R/ Mengidentifikasi cara yang tepat dan efektif dalam menghadapi pasien
4. Orientasikan pasien / orang terdekat tentang prosedur pembedahan
R/ Informasi yang cukup dan tepat mengurangi kecemasan
5. Diskusikan berbagai pertanyaan dan masalah dengan pasien maupun dengan keluarga
R/ Informasi dan jawaban pertanyaan yang terjawab secara meyakinkan dapat membentuk dukungan dan menurunkan ketegangan
6. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang
R/ Mengurangi rangsangan internal yang dapat memperberat rasa cemas pasien
b. Post Oprasi
Gangguan kesadaran b.d efek anastesi
1. Observasi TTV tiap 15 menit hingga pasien sadar penuh
R/ Mengetahui tingkat perkembangan keadaan pasien
2. Berikan posisi dengan kepala lebih ekstensi
R/ Membantu kelancaran jalan napas dan pengembangan paru
3. Observasi pengembangan fungsi otot, terutama alat pernapasan
R/ Memantau perkembangan pengembalian fungsi otot-otot
4. Observasi frekuensi dan kedalaman pernapasan
R/ Memastikn efektivitas dari pernapasan
5. Gunakan bantalan pada tempat tidur, lakukan pengikat jika diperlukan
R/ memberikan keamanan selama tahab daruat dan mencegah terjadinya cedera
6. Evaluasi sensasi ekstermitas dan batang tenggorok yang sesuai
R/ Pengembalian fungsi tergantung jenis dan jumlah obat yang digunakan
7. Orientasikan pasien secara terus menerus setelah keluar dari pengaruh anastasi
R/ Karena pasien telah meningkatkan kesadarannya maka, dukungn dan jaminan akan membantu menghindarkan ansietas






DAFTAR PUSTAKA
1. Ilmu kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1992. Jakarta
2. Kamus Kedokteran, Media Aeusculapus, Jakarta
3. Long Barbara. C (1996). Keperawatan Medical Bedah, Edisi III, USA. The CV Mousby Company
4. Ropper, Nancy. (1996). Prinsip-prinsip Keperawatan. Alih bahasa Andry Hartono Yogyakarta. Yayasan Essentia Medika
5. Ignatividus Donna, Bayne Varner Marihenn (1991). Medical Surgical Nursing : Anurse Process Approch. USA : W.B. Sounders Company.
6. Farrer, Helen. (2001). Maternity Care, Edisi II. Jakarta: EGC.

animasi queue

#include
#include
#include

char pil;
int jml;
void delay();

struct node
{
char kar;
node *next;
};
node *tail; //ekor
node *now;
node *head;
void buatnodebaru()
{
tail=NULL;
head=NULL;
}
void push(char ch)
{
now=new node;
if(head==NULL)
{
now->kar=ch;
now->next=NULL;
tail=now;
head=now;

}
else
{
now->kar=ch;
now->next=NULL;
tail->next = now;
tail=now;
}
}

void enqueue()
{
int i;
char temp;
gotoxy(1,6);
cout<<" ";
gotoxy(1,8);
cout<<" ";
gotoxy(1,6);
cout<<"masukkan @ karakter : ";
cin>>temp;
gotoxy(1,6);
cout<<" ";

push(temp);
for(i=1;i<= 75-jml*6;i++)
{
gotoxy(i+1,20);cout<<" O";
gotoxy(i,21); cout<<"=("<kar<<")=";
gotoxy(i+1,22);cout<<"| |";
delay();
if(i!=75-jml*6)
{
gotoxy(i+1,20);cout<<" ";
gotoxy(i,21);cout<<" ";
gotoxy(i+1,22);cout<<" ";
}

}
}

void dequeue()
{
if(head==NULL)
{
gotoxy(1,8); cout<<"antrean kosong !";
delay();

}
else
{
jml=jml-1;
char delete_element=head->kar;
node *temp;
temp=head;
head=head->next;
delete temp;

for(int i=69;i<=76;i++)
{
gotoxy(i+1,20); cout<<" O";
gotoxy(i,21); cout<<"=("< gotoxy(i+1,22); cout<<"| |";
delay();
gotoxy(i+1,20); cout<<" ";
gotoxy(i,21); cout<<" ";
gotoxy(i+1,22); cout<<" ";
}
int byk=0;

while(byk!=jml)
{
byk=byk+1;
for(int i=69-byk*6;i<=75-byk*6;i++)
{
gotoxy(i+1,20); cout<<" O";
gotoxy(i,21); cout<<"=("<kar<<")=";
gotoxy(i+1,22); cout<<"| |";
delay();
if(i!=75-byk*6)
{
gotoxy(i+1,20); cout<<" ";
gotoxy(i,21); cout<<" ";
gotoxy(i+1,22); cout<<" ";
}
}
}
}
}

void input()
{
gotoxy(1,1);cout<<"1.Enqueue";
gotoxy(1,2);cout<<"2.Dequeue";
gotoxy(1,3);cout<<"3.Exit";
do
{
gotoxy(1,4);cout<<"masukkan pilihan anda[1/2/3] : ";
gotoxy(32,4);cin>>pil;
gotoxy(32,4);cout<<" ";
switch(pil)
{
case '1':
{
if(jml<10)
{
jml=jml+1;
enqueue();
}
else
{
gotoxy(1,8); cout<<"antrean penuh !";
delay();
gotoxy(1,8); cout<<" ";
}
break;
}
case '2':
{
dequeue();
break;
}
case '3':
{
exit(1);
break;
}
}
}while(1);
}

void main()
{
buatnodebaru();
jml=0;
clrscr();
input();
getch();
}
void delay()
{
for(int y=1;y<100;y++)
for(int x=1;x<100;x++)
for(int p=1;p<100;p++)
cout<<"";
}

lintasan terpendek

1. Pendahuluan
Persoalan lintasan terpendek yaitu menemukan lintasan terpendek antara dua atau beberapa simpul lebih yang berhubungan. Persoalan mencari lintasan terpendek di dalam graf merupakan salah satu persoalan optimasi. Persoalan ini biasanya direpresentasikan dalam bentuk graf. Graf yang digunakan dalam pencarian lintasan terpendek atau shortest path adalah graf berbobot (weighted graph), yaitu graf yang setiap sisinya diberikan suatu nilai atau bobot. Bobot pada sisi graf dapat menyatakan jarak antar kota, waktu pengiriman pesan, ongkos pembangunan, dan sebagainya.
Graf yang digunakan dalam pencarian lintasan terpendek adalah graf berbobot (weighted graph), yaitu graf yang setiap sisinya diberikan suatu nilai atau bobot. Bobot pada sisi graf dapat menyatakan jarak antar kota, waktu pengiriman pesan, ongkos pembangunan, dan sebagainya. Asumsi yang kita gunakan di sini adalah bahwa semua bobot bernilai positif. Kata “terpendek” jangan selalu diartikan secara fisik sebagai panjang minimum, sebab kata “terpendek” berbeda-beda makanya bergantung pada tipikal perasoalan yang akan diselesaikan. Namun, secara umum “terpendek” berarti meminimalisasi bobot pada suatu lintasan di dalam graf.
Contoh-contoh terapan pencarian lintasan terpendek misalnya:
1. Misalkan simpul pada graf dapat merupakan kota, sedangkan sisi menyatakan jalan yang menghubungkan dua buah kota. Bobot sisi graf dapat menyatakan jarak antara dua buah kota atau rata-rata waktu tempuh antara dua buah kota. Apabila terdapat lebih dari satu lintasan dari kota A ke kota B, maka persoalan lintasan terpendek di sini adalah menentukan jarak terpendek atau waktu tersingkat dari kota A ke kota B.
2. Misalkan simpul pada graf dapat merupakan terminal komputer atau simpul komunikasi dalam suatu jaringan, sedangkan sisi menyatakan saluran komunikasi yang menghubungkan dua buah terminal. Bobot pada graf dapat menyatakan biaya pemakaian saluran komunikasi antara dua buah terminal, jarak antara dua buah terminal, atau waktu pengiriman pesan (message) antara dua buah terminal. Persoalan lintasan terpendek di sini adalah menentukan jalur komunikasi terpenek antara dua buah terminal komputer. Lintasan terpendek akan menghemat waktu pengiriman pesan dan biaya komunikasi.

Ada beberapa macam persoalan lintasan terpendek, antara lain:
a. Lintasan terpendek antara dua buah simpul tertentu (a pair shortest path).
b. Lintasan terpendek antara semua pasangan simpul (all pairs shortest path).
c. Lintasan terpendek dari simpul tertentu ke semua simpul yang lain (single-source shortest path).
d. Lintasan terpendekan antara dua buah simpul yang melalui beberapa simpul tertentu (intermediate shortest path).












DASAR TEORI

Graph merupakan struktur data yang
paling umum. Jika struktur linear
memungkinkan pendefinisian keterhubungan
sikuensial antara entitas data, struktur data tree
memungkinkan pendefinisian keterhubungan
hirarkis, maka struktur graph memungkinkan
pendefinisian keterhubungan tak terbatas antara
entitas data.
Definisi Graf adalah G = (V,E) yang
dalam hal ini :
V = himpunan tak kosong dari simpul-simpul
= {v1, v2, v3, ...}
E = himpunan sisi yang menghubungkan
sepasang simpul
= {e1, e2, e3, ...}
G adalah graf dengan
V = { 1, 2, 3, 4 }
E = { (1,2), (2,3), (1,3), (1,3), (2,4), (3,4), (3,4) }
= { e1, e2, e3, e4, e5, e6, e7}
Berdasarkan orientasi arah pada sisi, maka
secara umum graf dibedakan atas 2 jenis:
1. Graf tak-berarah (undirected graph)
Graf yang sisinya tidak mempunyai orientasi
arah disebut graf tak-berarah
Gbr. 2
2. Graf berarah (directed graph atau digraph)
Graf yang setiap sisinya diberikan orientasi arah
disebut sebagai graf berarah.
Gbr. 3
Dua buah simpul v1 dan simpul v2 disebut
terhubung jika terdapat lintasan dari v1 ke v2.
G disebut graf terhubung (connected
graph) jika untuk setiap pasang simpul vi dan vj
dalam himpunan V terdapat lintasan dari vi ke vj.
Jika tidak, maka G disebut graf takterhubung
(disconnected graph).


















Persoalan Lintasan Terpendek

Perhatian khusus ditujukan untuk menemukan rute terpendek antara
pasangan pusat dalam sebuah jaringan. Contohnya, sebuah perusahaan bisnis
besar dengan kantor pusat di New York mempunyai beberapa cabang utama di
negara-negara seluruh dunia. Kantor pusat mengkoordinasi seluruh kegiatan
operasi perusahaan, dan setiap hari seluruh informasi (meliputi permintaan,
penawaran dan biaya) harus diberikan dari kantor pusat ke kantor-kantor
cabang. Informasi yang ada dikirimkan via teleks. Diberikan biaya pengiriman
pesan melalui teleks antara dua perusahaan, dan ditentukan rute komunikasi
termurah dari kantor pusat dan setiap kantor cabang lainnya.
Perusahaan perbankan dengan kantor pusat di New York (NY) dan kantor
cabang di Paris (P), Zurich (Z), Berlin (B), Tokyo (T), Hongkong(HK) dan
Sydney (S). Setiap hari informasi penting (meliputi permintaan, penawaran
dan biaya) harus diberikan dari kantor pusat ke kantor-kantor cabang.
Informasi yang ada dikirimkan via teleks. Biaya pengiriman pesan antara dua
kantor cabang diberikan dalam matriks di bawah ini :









Graf yang digambarkan berdasarkan matriks di atas adalah pada Gambar 2.3.
di bawah ini :














Seperti contoh terdahulu, model graf ini memberikan himpunan semua
hubungan yang mungkin dan permasalahannya adalah memilih sebuah
himpunan bagian dari himpunan ini yang menunjukkan bahwa jaringan yang
ada sesuai dan jumlah biaya dari pengiriman informasi dari kantor pusat ke
kantor cabang dapat diminimalkan.

2.1 Persoalan Lintasan Terpendek

Persoalan yang diambil di sini yaitu single-source shortest path atau lintasan terpendek dari simpul tertentu ke semua simpul yang lain Persoalan: diberikan graf berbobot G(V, E). Tentukan lintasan terpendek dari sebuah simpul asal, a, ke setiap simpul lainnya di G. Asumsi yang kita buat adalah bahwa semua sisi berbobot positif. untuk mencari lintasan terpendek adalah sebagai berikut: Karena kita harus meminimumkan panjang lintasan, maka sebagai ukuran optimasi dapat digunakan total jarak pada lintasan yang baru dibentuk. Dalam hal ini, lintasan dibentuk satu per satu. Lintasan berikutnya yang dibentuk ialah lintasan yang meminimumkan jumlah jaraknya.

untuk mencari lintasan terpendek dirumuskan sebagai berikut: 1. Periksa semua sisi yang langsung bersisian (incident) dengan simpul a. Pilih sisi yang bobotnya terkecil. Sisi ini menjadi lintasan terpendek pertama. Sebut lintasan itu L1. 2. Tentukan lintasan terpendek kedua dengan cara berikut: (i) hitung: d1 = Panjang (L1) + bobot sisi dari simpul akhir L1 ke simpul i yang lain (simpul i yang lain adalah simpul i yang belum termasuk di dalam L1) (ii) pilih d1 yang terkecil bandingkan d1 dengan bobot sisi (a, i). Jika bobot (a, i) lebih kecil daripada d1, maka lintasan terpendek kedua adalah L2 = (a, i), jika tidak, maka L2 = L1 u (sisi dari simpul akhir L1 ke simpul i) 3. Dengan cara yang sama, ulangi langkah 2 untuk menentukan lintasan terpendek berikutnya. Contoh: Tinjau sebuah graf berarah di bawah ini. Bobot pada setiap sisi dapat menyatakan jarak, ongkos, waktu, dan sebagainya.

Lintasan terpendek dari simpul 1 ke semua simpul lain yang diberikan pada tabel di bawah ini dihasilkan dengan mengunakan strategi greedy di atas:


6. KESIMPULAN

Graf dapat dipakai dalam menyelesaikan
permasalahan pencarian rute terpendek yang
menggunakan algoritma A*.
Untuk merepresentasikan graf dalam menyelesaikan
permasalahan dengan pencarian rute terpendek, dapat
digunakan aplikasi Graph Search yang bisa membuat
graf sesuai dengan keinginan kita.

lintasan terpendek

1. Pendahuluan
Persoalan lintasan terpendek yaitu menemukan lintasan terpendek antara dua atau beberapa simpul lebih yang berhubungan. Persoalan mencari lintasan terpendek di dalam graf merupakan salah satu persoalan optimasi. Persoalan ini biasanya direpresentasikan dalam bentuk graf. Graf yang digunakan dalam pencarian lintasan terpendek atau shortest path adalah graf berbobot (weighted graph), yaitu graf yang setiap sisinya diberikan suatu nilai atau bobot. Bobot pada sisi graf dapat menyatakan jarak antar kota, waktu pengiriman pesan, ongkos pembangunan, dan sebagainya.
Graf yang digunakan dalam pencarian lintasan terpendek adalah graf berbobot (weighted graph), yaitu graf yang setiap sisinya diberikan suatu nilai atau bobot. Bobot pada sisi graf dapat menyatakan jarak antar kota, waktu pengiriman pesan, ongkos pembangunan, dan sebagainya. Asumsi yang kita gunakan di sini adalah bahwa semua bobot bernilai positif. Kata “terpendek” jangan selalu diartikan secara fisik sebagai panjang minimum, sebab kata “terpendek” berbeda-beda makanya bergantung pada tipikal perasoalan yang akan diselesaikan. Namun, secara umum “terpendek” berarti meminimalisasi bobot pada suatu lintasan di dalam graf.
Contoh-contoh terapan pencarian lintasan terpendek misalnya:
1. Misalkan simpul pada graf dapat merupakan kota, sedangkan sisi menyatakan jalan yang menghubungkan dua buah kota. Bobot sisi graf dapat menyatakan jarak antara dua buah kota atau rata-rata waktu tempuh antara dua buah kota. Apabila terdapat lebih dari satu lintasan dari kota A ke kota B, maka persoalan lintasan terpendek di sini adalah menentukan jarak terpendek atau waktu tersingkat dari kota A ke kota B.
2. Misalkan simpul pada graf dapat merupakan terminal komputer atau simpul komunikasi dalam suatu jaringan, sedangkan sisi menyatakan saluran komunikasi yang menghubungkan dua buah terminal. Bobot pada graf dapat menyatakan biaya pemakaian saluran komunikasi antara dua buah terminal, jarak antara dua buah terminal, atau waktu pengiriman pesan (message) antara dua buah terminal. Persoalan lintasan terpendek di sini adalah menentukan jalur komunikasi terpenek antara dua buah terminal komputer. Lintasan terpendek akan menghemat waktu pengiriman pesan dan biaya komunikasi.

Ada beberapa macam persoalan lintasan terpendek, antara lain:
a. Lintasan terpendek antara dua buah simpul tertentu (a pair shortest path).
b. Lintasan terpendek antara semua pasangan simpul (all pairs shortest path).
c. Lintasan terpendek dari simpul tertentu ke semua simpul yang lain (single-source shortest path).
d. Lintasan terpendekan antara dua buah simpul yang melalui beberapa simpul tertentu (intermediate shortest path).












DASAR TEORI

Graph merupakan struktur data yang
paling umum. Jika struktur linear
memungkinkan pendefinisian keterhubungan
sikuensial antara entitas data, struktur data tree
memungkinkan pendefinisian keterhubungan
hirarkis, maka struktur graph memungkinkan
pendefinisian keterhubungan tak terbatas antara
entitas data.
Definisi Graf adalah G = (V,E) yang
dalam hal ini :
V = himpunan tak kosong dari simpul-simpul
= {v1, v2, v3, ...}
E = himpunan sisi yang menghubungkan
sepasang simpul
= {e1, e2, e3, ...}
G adalah graf dengan
V = { 1, 2, 3, 4 }
E = { (1,2), (2,3), (1,3), (1,3), (2,4), (3,4), (3,4) }
= { e1, e2, e3, e4, e5, e6, e7}
Berdasarkan orientasi arah pada sisi, maka
secara umum graf dibedakan atas 2 jenis:
1. Graf tak-berarah (undirected graph)
Graf yang sisinya tidak mempunyai orientasi
arah disebut graf tak-berarah
Gbr. 2
2. Graf berarah (directed graph atau digraph)
Graf yang setiap sisinya diberikan orientasi arah
disebut sebagai graf berarah.
Gbr. 3
Dua buah simpul v1 dan simpul v2 disebut
terhubung jika terdapat lintasan dari v1 ke v2.
G disebut graf terhubung (connected
graph) jika untuk setiap pasang simpul vi dan vj
dalam himpunan V terdapat lintasan dari vi ke vj.
Jika tidak, maka G disebut graf takterhubung
(disconnected graph).


















Persoalan Lintasan Terpendek

Perhatian khusus ditujukan untuk menemukan rute terpendek antara
pasangan pusat dalam sebuah jaringan. Contohnya, sebuah perusahaan bisnis
besar dengan kantor pusat di New York mempunyai beberapa cabang utama di
negara-negara seluruh dunia. Kantor pusat mengkoordinasi seluruh kegiatan
operasi perusahaan, dan setiap hari seluruh informasi (meliputi permintaan,
penawaran dan biaya) harus diberikan dari kantor pusat ke kantor-kantor
cabang. Informasi yang ada dikirimkan via teleks. Diberikan biaya pengiriman
pesan melalui teleks antara dua perusahaan, dan ditentukan rute komunikasi
termurah dari kantor pusat dan setiap kantor cabang lainnya.
Perusahaan perbankan dengan kantor pusat di New York (NY) dan kantor
cabang di Paris (P), Zurich (Z), Berlin (B), Tokyo (T), Hongkong(HK) dan
Sydney (S). Setiap hari informasi penting (meliputi permintaan, penawaran
dan biaya) harus diberikan dari kantor pusat ke kantor-kantor cabang.
Informasi yang ada dikirimkan via teleks. Biaya pengiriman pesan antara dua
kantor cabang diberikan dalam matriks di bawah ini :









Graf yang digambarkan berdasarkan matriks di atas adalah pada Gambar 2.3.
di bawah ini :














Seperti contoh terdahulu, model graf ini memberikan himpunan semua
hubungan yang mungkin dan permasalahannya adalah memilih sebuah
himpunan bagian dari himpunan ini yang menunjukkan bahwa jaringan yang
ada sesuai dan jumlah biaya dari pengiriman informasi dari kantor pusat ke
kantor cabang dapat diminimalkan.

2.1 Persoalan Lintasan Terpendek

Persoalan yang diambil di sini yaitu single-source shortest path atau lintasan terpendek dari simpul tertentu ke semua simpul yang lain Persoalan: diberikan graf berbobot G(V, E). Tentukan lintasan terpendek dari sebuah simpul asal, a, ke setiap simpul lainnya di G. Asumsi yang kita buat adalah bahwa semua sisi berbobot positif. untuk mencari lintasan terpendek adalah sebagai berikut: Karena kita harus meminimumkan panjang lintasan, maka sebagai ukuran optimasi dapat digunakan total jarak pada lintasan yang baru dibentuk. Dalam hal ini, lintasan dibentuk satu per satu. Lintasan berikutnya yang dibentuk ialah lintasan yang meminimumkan jumlah jaraknya.

untuk mencari lintasan terpendek dirumuskan sebagai berikut: 1. Periksa semua sisi yang langsung bersisian (incident) dengan simpul a. Pilih sisi yang bobotnya terkecil. Sisi ini menjadi lintasan terpendek pertama. Sebut lintasan itu L1. 2. Tentukan lintasan terpendek kedua dengan cara berikut: (i) hitung: d1 = Panjang (L1) + bobot sisi dari simpul akhir L1 ke simpul i yang lain (simpul i yang lain adalah simpul i yang belum termasuk di dalam L1) (ii) pilih d1 yang terkecil bandingkan d1 dengan bobot sisi (a, i). Jika bobot (a, i) lebih kecil daripada d1, maka lintasan terpendek kedua adalah L2 = (a, i), jika tidak, maka L2 = L1 u (sisi dari simpul akhir L1 ke simpul i) 3. Dengan cara yang sama, ulangi langkah 2 untuk menentukan lintasan terpendek berikutnya. Contoh: Tinjau sebuah graf berarah di bawah ini. Bobot pada setiap sisi dapat menyatakan jarak, ongkos, waktu, dan sebagainya.

Lintasan terpendek dari simpul 1 ke semua simpul lain yang diberikan pada tabel di bawah ini dihasilkan dengan mengunakan strategi greedy di atas:


6. KESIMPULAN

Graf dapat dipakai dalam menyelesaikan
permasalahan pencarian rute terpendek yang
menggunakan algoritma A*.
Untuk merepresentasikan graf dalam menyelesaikan
permasalahan dengan pencarian rute terpendek, dapat
digunakan aplikasi Graph Search yang bisa membuat
graf sesuai dengan keinginan kita.

hipertensi

HIPERTENSI

A. DEFINISI
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan darah sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg, dan tekanan diastolic 90 mmHg. Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke, & gagal ginjal.
Gangguan emosi, obesitas, konsumsi alcohol yang berlebihan, dan rangsangan kopi yang berlebihan, tembakau, obat-obatan yang merangsang dapat berperan disini, tapi penyakit ini sangat dipengaruhi factor keturunan. Tingginya tekanan darah yang lama tentu saja akan merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, yang paling jelas pada mata, jantung, ginjal, dan otak. Maka konsekuensi pada hipertensi yang lama tidak terkontrol adalah gangguan penglihatan, oklusi koroner, gagal ginjal, & stroke. Selain itu jantung membesar karena dipaksa meningkatkan beban kerja saat memompa melawan tingginya tekanan darah. Hipertrofi ini dapat diperiksa dengan EKG atau rontgen thorak. Peningkatan tahanan perifer yang dikontrol pada tingkat arteriola adalah dasar penyebab tingginya tekanan darah. Penyebab tingginya tahanan tersebut belum banyak diketahui. Tetapi obat-obatan ditujukan untuk menurunkan tahanan perifer untuk menurunkan tekanan darah & mengurangi stress pada system vaskuler.
B. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembulih darah terhadap rangsang vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, meyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua factor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
C. Etiologi
Berdasarkan Penyebabnya Hipertensi dibagi dalam 2 Golongan yaitu :
1. Hipertensi primer / essensial
Merupakan hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui, biasanya berhubungan dengan faktor keturunan dan lingkungan.
2. Hipertensi sekunder
Merupakan hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui secara pasti, seperti gangguan pembuluh darah dan penyakit ginjal.
D. Faktor Pencetus terjadinya Hipertensi
1. Obesitas / kegemukan
2. Kebiasaan merokok
3. Minuman beralkohol
4. Penyakit kencing manis dan jantung
5. Wanita yang tidak menstruasi
6. Stress
7. Kurang olah raga
8. Diet yang tidak seimbang, makanan berlemak dan tinggi kolesterol


E. Tanda dan gejala:
 Sakit kepala dan pusing
 Nyeri kepala berputar
 Rasa berat di tengkuk
 Marah/emosi tidak stabil
 Mata berkunang – kunang
 Telinga berdengung
 Sukar tidur
 Kesemutan
 Kesulitan bicara
 Rasa mual / muntah
F. Klasifikasi
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Optimal < 120 dan < 80
Normal < 130 dan < 85
Normal tinggi 130 – 139 atau 85 – 89
Hipertensi derajat 1 140 – 159 atau 90 – 99
derajat 2 160 – 179 atau 100 – 109
derajat 3 180 110
Keterangan: Klasifikasi hipertensi bagi yang berumur 18 th keatas.
Hipertensi sistolik terisolasi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastoliknya di bawah 90 mmHg.
Tekanan darah pertama kali (mmHg) Observsi yang dianjurkan
Sistolik Diastolik
< 130 < 85 Pemeriksaan ulang dalam 2 th
130 – 139 85 – 89 Pemeriksaan ulang dalam 1 th
140 – 159 90 – 99 Dipastikan dalam 2 th
160 – 179 100 – 109 Evaluasi dalam 1 th
180  110 Evaluasi segera/dalam 1 minggu,
tergantung situasi klinis.
Keterangan: Rekomendasi untuk observasi lebih lanjut setelah pengukuran tekanan darah pertama kali.

G. MANIFESTASI KLINIS
Pada pemeriksaan fisik mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina seperti: perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat edema pupil dapat terjadi (edema pada diskus optikus). Gejala pada orang hipertensi biasanya menunjukkan gejala vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai system organ yang divaskularisasi oleh system organ yang bersangkutan. Penyakit arteri koroner dengan angina adalah gejala yang sering menyertai hipertensi. Hipertrofi ventrikel kiri terjadi sebagai respon peningkatan beban kerja ventrikel saat dipaksa berkontraksi melawan tekanan sistemik yang meningkat. Apabila jantung tidak lagi mampu menahan peningkatan beban kerja, maka dapat terjadi gagal jantung kiri.
Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi seperti nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azotemia (peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin). Keterlibatan pembuluh darah otak dapat mengakibatkan stroke atau serangan iskemik transien yang termanifestasi sebagai paralysis sementara pada satu sisi (hemiplegi) atau gangguan tajam pengluhatan.
Faktor risiko utama Kerusakan organ target
Merokok
Dislipidemia
DM
Umur diatas 60 th

Jenis kelamin (pria & wanita pasca menopause)
Riwayat penyakit kardiovaskuler dalam keluarga.
Wanita < 65 th atau pria < 55 th. Penyakit jantung:
*Hipertrofi ventrikel kiri
*Angina/riwayat AMI
*Riwayat revaskularisasi koroner.
*Gagal jantung
Stroke & serangan iskemik selintas

Nefropati

Penyakit arteri perifer, retinopati.
Keterangan: Faktor risiko kardiovaskuler dan kerusakan organ target pada pasien hipertensi.
H. PENATALAKSANAAN
Tujuan tiap program penanganan bagi setiap pasien adalah mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Efektifitas setiap program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan, dan kualtas hidup sehubungan dengan terapi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan nonfarmakologis termasuk: penurunan berat badan, pembatasan alcohol, natrium, tembakau, latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi antihipertensi. Apabila penderita ringan berada dalam resiko tinggi (pria, perokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap diatas 85 atau 95 mmHg dan sistoliknya di atas 130 – 139 mmHg, maka perlu dimulai terapi obat-obatan.
Derajat hipertensi (mmHg). Kelompok resiko A (Tak ada factor resiko, tak ada kerusakan organ target). Kelompok risiko B (Minimal 1 faktor risiko, tak termasuk diabetes, tak ada kerusakan organ target). Kelompok Risiko C (Kerusakan organ target dan atau diabetes, dengan atau tanpe factor risiko lain).
Normal tinggi
(130–139/85–89)
Derajat 1
(140-159/90-99)

Derajat 2&3
(160/ 100) Perubahan gaya hidup
Perubahan gaya hidup (sampai 12 bulan)
Terapi obat Perubahan gaya hidup
Perubahan gaya hidup (sampai 6 bulan).
Terapi obat
Terapi obat

Terapi obat


Terapi obat
Keterangan: Stratifikasi risiko dan pengobatan hipertensi.

apakah blog ini bermanfaat bagi anda...?,