Antibiotik dan Antijamur

2.1 Pengertian Antibiotik dan Antijamur

2.11. ANTIBIOTIKA

Antibiotika (L.anti = lawan, bios = hidup) adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relative kecil. Turunan zat tersebut yang di buat secara semi-sinfetis. Senyawa sentitasdengan khasiat antibakteri lazimnya disebut antibiotika.
Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.
Kegiatan antibiotik untuk pertama kalinya ditemukan oleh dr. Alexander Fleming (inggris, 1928, penisilin). Tetapi penemuan ini baru di kembangkan dan digunakan pada permulaan Perang Dunia II tahun 1941, ketika obat-obat antibiotika sangat di perlukan untuk menanggulangi infeksi dari luka-luka akibat pertempuran.
Lazimnya antibiotika dibuat secara mikrobiologi, yaitu fungsi di biakan dalam tangki-tangki besar bersama zat-zat gizi khusus. Oksigen atau udara steril disalurkan kedalam cairan pembiakan guna mempercepat pertumbuhan fungsi dan meningkatkan produksi antibiotikumnya. Setelah di isolasi dari cairan kultur, antibiotikum dimurnikan dan aktivitasnya di temukan.

Antibiotik termasuk jenis obat yang cukup sering diresepkan dalam pengobatan modern. Antibiotik adalah zat yang membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri.

Jenis antibiotik itu juga membunuh bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh. Antibiotik yang termasuk kategori itu adalah cephalosporin. Penyakit yang disebabkan virus tidak dapat diberikan antibiotik. Misalnya, sakit flu atau pilek. Sebab, antibiotik tidak dapat membunuh virus karena virus dapat mati sendiri, asal daya tahan tubuh penderita meningkat atau membaik. Meski begitu, dalam perkembangannya, saat ini ada antibiotik yang dikembangkan untuk membunuh virus.
3


A. Mekanisme kerja

Cara kerja yang terpenting adalah perintangan sintesa protein sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi,misalnya kloramfenoikol,tetrasiklin,aminoglikosida,makrolida,dan limkomisin.
Selain itu beberapa antibiotik bekerja terhadap dinding sel (penisilin dan sefalosporin) atau membran sel (polomiksin,zat-zat polyen dan imidasol).

Antibiotik tidak aktif terhadap kebanyakan virus kecil , mungkin karna virus tidak memiliki proses metabolisme sesungguhnya, melainkan tergantung seluruhnya dari proses tuan rumah.

B. Aktifitasnya

Pada umumnya aktifitas dinyatakan dengan satuan berat (mg) kecuali zat-zat yang belum dapat diperoleh 100% murni dan trdiri dari campuran beberapa zat misalnya : polomiksin B , basitrasin, dan nistatin yang aktifitasnya selalu ditinyatakan dengan satuan intrnasional.Begitu pula senyawa kompleks dari penisilin,yakni prokain dan benzatin-penisilin.

C. Pengunaan

Antibiotik digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi akibat kuman atau juga prevensi infeksi misalnya : pada pembedahan besar secara profilaktis juga diberikan pada pasien dengan sendi dan kep jantung buatan juga digunakan sebelum cabut gigi.
Dibawah ini akan dibahas berturut-turut kelompok antibiotik penisil dan sefalosforin , tetrasiklin, kloramfenikol, vankomisin, asam fusidat.

 Penisilin
Penisilin dipeoleh dari jamur penicillium chrysogenum dari berbagai macam virus yang dihasilkan perbedaannya hanya terletak pada gugusan samping R saja.
Penisilin dan turunanya bersifat bakterisid terhadap kuman gram positif (khususnya cocci)dan hanya beberapakuman gram negative.Penisilin termasuk antibiotika spectrum sempit,begitu pula penisili-v dan analognya.

4
Ampisilin dan turunanya serta sefalosporin memiliki spectrum yang lebih luas yang meliputi banyak gram negative antara lain H influenza,E.coli,dan
P.mirabilis.Berapa sefalosporin bahkan aktif terhadap kuman “sulit seodomonas sebagaimana telah diutarakan , antibiotika bakterisid ini tidak dapat di kombinasikan dengan la dan baktriosstatika seperti tetrasiklin , kloramfenikol , eloktromisin , dan pertumbuhan sel dan didingnya.

Pengolonga Penisilin

Penisilin dapat dibagi dalam berbagai jenis menurut aktifitas dan retensunya terhadap laktase sebagai berikut:
A. zat-zat sprektum sempit : benzil penisilin-V dan penitisilin .Zat-zat ini terutama aktif pada kuman gram positif dan diuraikan penisilinaso.
B. Zat-zat tahan laktanase : metisilin kloksasilin dan fluklosasilin.Zat ini hanya aktif terhadap stafilokok dan strepkok.
C. Zat zat spectrum luas : amoksilin dan ampisilin, aktif terhadap kuman -kuman gram positif dan sejumlah kuman gram negative kecuali antara lain pseudomonas, klepsiella dan B. fragilis..

• Untuk ibu hamil dan laktasi
Semua obat penisilin dianggap aman bagi ibu hamil dan menyusui, walaupun dalam jumlah kecil terdapat dalam darah janin dan air susu ibu.



 Sefalosporin.
Sefalosporin termaksud antibiotikate lak-tam dengan sturktur , khasiat dan sifat yang banyak mirip penisilin.Diperoleh secara semisintesis dari sefalosporin C yang dihasilkan jamur cephalosporium acremonium.

• untuk ibu hamil dan laktasi
Sefalosporin dapat dengan mudah melintasi plasenta, tapi kadarnya dalam darah janin lebih rendah daripada ibunya. Sefalotin dan sefaleksin telah digunakan selama kehamilan tanpa adanya laporan buruk bagi bayi,. sefalosporin banyak terdapat pada air susu ibu.




5
 Tetrasiklin


Senyawa tetrasilklin diperoleh dari sterptomices aureofacien ( klorte-trasiklin) dan streptomisin primosus ( oksite-trasiklin ). Khasiatnya bersifat bakteorio statis, hanya melalui injeksi intra vena dapat dicapai kadar plasma yang bakterisid lemah. Spectrum kerjanya luas dan meliputi banyak cocaci gram positif dan negative serta kebanyakan bacilli kecuali pseoudomonas dan proteus.



• Untuk ibu hamil
Dapat menghambat pembentukan tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lebih rapuh dan klasifikasi gigi terpengaruh secara buruk, semua tetrasiklin tidak boleh diberikan setelah bulan ke empat dari kehamilan dan pada anak-anak sampai usia delapan tahun.

 Kloramfenikol
Bersifat bakteoritas terhadap enterobakter dan staph. Kloramfenikol bekerja bakterisin terhadap str.pneumoniae, nesiss menginitides dan influenza.

• Kehamilan dan laktasi
Tiadk dianjurkan khusunya selama minggu terakhir dari kehamilan karena dapat menimbulkan sianosis dan hipotermia pada neonatus. Berhubungan ke plasenta dan mencapai air susu ibu, maka tidak boleh diberikan selama laktasi.

 Asam fusidat
Antibiotikum ini dihasilkan oleh jamur fungi sidium kokineum.Dapat digunakan secara oaral atau intra vena pada infeksi stafilokokus, khususnya bila terdapat resistensi dan hipersensifitas terhadap penisilin atau obat lain.

• Kehamilan dan laktasi
Jika di konsumsi pada akhir kehamilan dapat mengakibatkan antara lain penyakit kuning (icterus) pada bayi.zat ini melintasi plasenta dan terdapat pada air susu ibu.



6
2.12. Antijamur

Preparat vaginal adalah sediaan obat yang diperuntukkan untuk permasalahan pada alat kewanitaan seperti keputihan. Salah satu fungsi utama preparat vaginal yang tersedia di Indonesia adalah sebagai obat keputihan yang beragam penyebabnya.
Salah satu penyebab keputihan adalah infeksi, infeksi disebabkan oleh jamur, bakteri atau virus. Infeksi terbanyak penyebab keputihan adalah jamur dan parasit Trichomonas, sehingga preparat vaginal di Indonesia banyak diperuntukkan untuk infeksi jamur dengan beragam bentuk sediaan.
Obat antijamur terdiri dari beberapa kelompok yaitu : kelompok polyene (amfoterisin B, nistatin, natamisin), kelompok azol (ketokonazol, ekonazol, klotrimazol, mikonazol, flukonazol, itrakonazol), allilamin (terbinafin), griseofulvin, dan flusitosin.

A. Penggunaan:

 Azol
Antijamur azol merupakan senyawa sintetik dengan aktivitas spektrum yang luas, yang diklasifikasi sebagai imidazol (mikonazol dan ketokonazol) atau triazol (itrakonazol dan flukonazol) bergantung kepada jumlah kandungan atom nitrogennya ada 2 atau 3. Struktur kimia dan profil farmakologis ketokonazol dan itrakonazol sama, flukonazol unik karena ukuran molekulnya yang kecil dan lipofilisitasnya yang lebih kecil. Pada jamur yang tumbuh aktif, azol menghambat 14-α- demetilase, enzim yang bertanggung jawab untuk sintesis ergosterol, yang merupakan sterol utama membran sel jamur. Pada konsentrasi tinggi, azol menyebabkan K+ dan komponen lain bocor keluar dari sel jamur.
7
 Flukonazol

Fluconazole merupakan jenis obat-obatan yang ampuh untuk mengatasi meningitis cryptococcal, tetapi tidak boleh dijadikan prioritas utama untuk pasien pengidap AIDS kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu. Fluconazole terbukti lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi dibandingkan amphotericin B untuk mengobati atau mencegah terjadinya cryptococcosis pada pasien penderita AIDS.
Fluconazole saat ini menjadi jenis obat yang menjadi pilihan banyak dokter untuk mengobati pasien penderita meningitis coccidioidal. Syaratnya, pasien tersebut harus tetap mengkonsumsi fluconazole selama hidupnya agar mencegah munculnya kembali penyakit yang sama.

 Nystatin
Nystatin adalah obat antijamur polien untuk jamur dan ragi yang sensitif terhadap obat ini termasuk Candida sp. Di dalam darah sangat berbahaya bagi tubuh, tetapi dengan sifatnya yang tidak bisa melewati membran kulit sangat baik untuk digunakan sebagai obat pemakaian luar saja. Tetapi dalam penggunaannya harus hati-hati jangan digunakan pada luka terbuka.
 Griseofulvin
Griseofulvin, suatu obat jamur, juga dilaporkan memiliki efek yang serupa, yaitu mengurangi efek kontrasepsi oral. Obat jamur lain yang dilaporkan dapat menurunkan potensi pil KB adalah itraconazole, namun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Yang menarik, obat kelompok triazol yang lain yaitu ketaconazole, dan fluconazole, dilaporkan menghambat enzim sitokrom P450, yang berarti mengurangi metabolisme pil KB menjadi bentuk tak aktifnya, yang pada gilirannya meningkatkan efek pil KB-nya. Namun karena belum ada data epidemiologi yang akurat, masih sulit untuk menyimpulkan secara pasti interaksi obat jamur dengan kontrasepsi oral.



8

2.13 STUDI KASUS

Belakangan nyonya Susi gelisah. Sudah seminggu ini haidnya terlambat. Apakah nyonya Susi hamil? Padahal dia tidak pernah lupa minum pil KB. Mereka belum berencana menambah anak lagi. Beberapa waktu lalu dia juga punya keluhan seperti keputihan dan gatal di sekitar organ kewanitaannya. Dokter memberinya obat antijamur griseofulvin. Adakah hubungan antara pil KB/kontrasepsi oral dengan antijamur yang dia minum ?

Jawaban:

Hingga sekarang, interaksi obat antara pil KB dan obat antimikroba (antibiotika dan antijamur) masih menjadi kontroversi. Sebagian dokter/klinisi melaporkan adanya sejumlah wanita yang gagal ber-KB karena minum antibiotika selama penggunaan pil KB, terutama tetrasiklin atau golongan penisilin, sementara para ilmuwan belum bisa mengklaim secara kuat bahwa penggunaan secara bersama dua obat tersebut menurunkan konsentrasi obat kontrasepsi oral dalam darah, terutama etinil estradiol (senyawa aktif dalam pil KB).

• Mekanisme terjadinya interaksi antara pil KB dengan obat antibiotika/antijamur ?

Etinil estradiol adalah estrogen pilihan yang banyak digunakan dalam pil KB, dan merupakan senyawa yang aktif utama pil KB. Dari total zat aktif dalam satu pil, hanya kira-kira 40-50 %-nya saja yang dapat mencapai peredaran darah sistemik dalam bentuk tidak berubah, dengan rentang variasi individual berkisar 10 s/d 70%. Sisanya dimetabolisir selama “first pass metabolisme” melalui saluran pencernaan dan liver/hati. Etinil estradiol yang telah melalui peredaran darah akan diserap oleh tubuh, dan sisa yang tidak terserap akan mengalami konjugasi dengan senyawa sulfat, terutama di dinding saluran cerna, lalu ditranspor di pembuluh darah vena ke dalam liver dimana akan terjadi hidroksilasi dan konjugasi dengan asam glukoronat.







9
Dengan proses metabolisme ini, etinil estradiol berubah menjadi senyawa yang tidak aktif, yang pada akhirnya akan dikeluarkan melalui feses/tinja.

Griseofulvin, suatu obat jamur, juga dilaporkan memiliki efek yang serupa, yaitu mengurangi efek kontrasepsi oral. Obat jamur lain yang dilaporkan dapat menurunkan potensi pil KB adalah itraconazole, namun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Yang menarik, obat kelompok triazol yang lain yaitu ketaconazole, dan fluconazole, dilaporkan menghambat enzim sitokrom P450, yang berarti mengurangi metabolisme pil KB menjadi bentuk tak aktifnya, yang pada gilirannya meningkatkan efek pil KB-nya. Namun karena belum ada data epidemiologi yang akurat, masih sulit untuk menyimpulkan secara pasti interaksi obat jamur dengan kontrasepsi oral.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah blog ini bermanfaat bagi anda...?,

Ada kesalahan di dalam gadget ini