toxoplasma

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG.
Toxoplasma atau Toxoplasmosis sering menjadi hal yang sangat ditakuti dan dikhawatirkan bagi wanita hamil dan yang sedang merencanakan kehamilan.Toxoplasmosis sendiri merupakan suatu infeksi protozoa Toxoplasmosa gondii, yang biasanya terjadi melalui kontak dengan tinja kucing, makan makanan mentah, atau makanan daging yang terkontaminasi dengan toxo ini. Bila infeksi toxo terjadi saat hamil maka akan dapat menyebabkan keguguran, atau bila anak lahir maka dapat timbul dengan beberapa masalah kesehatan, seperti kelainan kongenital cacat, pembesaran hati dan limpa, kekuningan pada kulit dan mata (jaundice), infeksi mata yang berat, dll. Jika Anda sudah terinfeksi cara yang harus ditempuh memang dengan mengobatinya. Pengobatan akan memperendah resiko kelainan pada bayi dalam kandungan anda. Namun bila Anda sedang merencanakan kehamilan, ada baiknya Anda memeriksakan diri ke dokter dan bisa diikuti pula dengan menghindari makanan atau aktivitas yang memiliki risiko tinggi terinfeksi Toxoplasmosis. Diantaranya adalah makan makanan mentah atau yang dimasak setengah matang, sayuran yang tidak dicuci bersih dan dimakan mentah serta minum susu yang tidak dipasteurisasi. Selain itu hindari pula kotoran kucing, terutama kucing yang kemungkinan besar mengkonsumsi daging mentah, burung ataupun tikus.
1.2 RUMUSAN MASALAH

1.3 TUJUAN




















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang telah diketahui dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan kongenital) pada bayi dan keguguran (abortus) pada ibu hamil. Infeksi toksoplasma dapat bersifat tunggal atau dalam kombinasi dengan infeksi lain dari golongan TORSH-KM.
Sumber penularannya adalah kotoran hewan berbulu, terutama kucing. Cara penularan-nya pada manusia melalui:
1. Makanan dan sayuran/buah-buahan yang tercemar kotoran hewan berbulu (kucing).
2. Makan daging setengah matang dari binatang yang terinfeksi.
3. Melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari donor yang terinfeksi toksoplasma.
4. Secara kongenital (bawaan) dari ibu ke bayinya apabila ibu hamil terinfeksi pada bulan-bulan pertama kehamilannya.
Toksoplasma pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, lahir prematur, lahir mati, lahir cacat atau infeksi toksoplasma bawaan. Bilamana ibu hamil terkena infeksi tokso-plasma maka risiko terjadinya toksoplasmosis bawaan pada bayi yang dikandungnya berkisar antara 30-40%. Infeksi toksoplasma bawaan ini dapat mengakibatkan anak yang dilahirkan mengalami kerusakan mata, perkapuran otak, dan keterbelakangan mental, namun seringkali gejala ini tidak terlihat pada bayi yang baru lahir (neonatus). Beberapa faktor yang mungkin berperan atas munculnya gejala adalah fungsi plasenta sebagai sawar (barrier), status kekebalan (imunitas) ibu hamil, dan umur kehamilan ketika terjadinya infeksi pada ibu. Makin besar umur kehamilan ketika terjadinya infeksi, makin besar pula kemungkinan terjadinya infeksi toksoplasma bawaan pada janin. Pada pihak lain, makin dini terjadinya infeksi pada janin, makin berat kerusakan (kelainan) yang dapat terjadi pada janin dan makin besar kemungkinan abortus.
2.2 TANDA DAN GEJALA
Sebagian besar tidak tampak secara kasat mata, namun demikian juga ditemukan
seperti gejala flu biasa tergantung strain virusnya, usia, dan derajat imunitas
tubuh/daya tahan tubuh.
Gejala yang ditimbulkan dari infeksi ini adalah:
1. Pada banyak orang timbul tampa gejala dari penyakit ini.
2. Demam, nyeri tenggorokan, lelah, pembesaran kelenjar getah benig didareah leher, ketiak.
3. Pada beberapa kasus dapat menyebabkan penglihatan menjadi buram atau kehilangan penglihatan.
4. Orang yang sedang hamil atau orang dengan penyakit system imunitas yang rendah seperti AIDS atau kanker mempunyai resiko lebih tinggi bila terkena infeksi ini.

2.3 CARA PENULARAN
Toxoplasma dapat ditularkan melalui tiga cara :

1. Kontak langsung dengan feses kucing yang telah terinfeksi
Menurut sebuah penelitian, feses(tinja) seekor kucing mengandung tidak kurang dari 10 juta ookista setelah 2 minggu terinfeksi. Bentuk ookista biasanya terjadi 2-5 hari setelah parasit dikeluarkan bersamaan dengan feses(tinja) kucing. Sejauh ini tidak ada metode yang dapat digunakan untuk mencegah binatang peliharaan, khususnya kucing, untuk terinfeksi dan atau menjadi perantara penularan parasit toxoplasma.

2. Memakan daging mentah atu setengah matang.
Ratusan jenis hewan mamalia dan burung dapat terinfeksi oleh toxoplasma dengan cara yang hampir sama dengan infeksi yang terjadi pada manusia, yaitu dengan kontak langsung melalui bahan makanan dan air yang telah terkontaminasi oleh parasit toxoplasma. Akibatnya, manusia dapat pula terinfeksi setelah mengkonsumsi jenis hewan yang telah terinfeksi. Pada negara-negara industri, transmisi pada manusia umumnya berkaitan dengan kebiasaan memakan daging setengah matang, terutama daging babi dan domba (pada beberapa daerah di dunia diperkirakan 10% daging domba dan 25% daging babi mengandung bentuk kista toxoplasma). Parasit ini juga dapat terkandung dalam produk susu yang tidak melalui proses pasteurisasi, misalnya susu kambing. Lalat maupun kecoa yang telah melakukan kontak langsung dengan feses kucing juga berpotensi menjadi sumber infeksi.

3. Infeksi kongenital dari plasenta kepada janin.
Parasit toxoplasma tidak dapat menular antar manusia, kecuali dari ibu pada janinnya selama atau sebelum kehamilan berlangsung. Gilbert tahun 2001 memperkirakan bahwa wanita hamil yang menderita toksoplasmosis 25% akan menularkan ke janinnya.


2.4 CARA PENCEGAHAN
Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk menurunkan kesakitan dan kematian akibat penyakit ini. Secara umum pencegahan dapat dilakukan sbb.;
1. Hindari mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang, serta buah dan sayuran yang belum dicuci.
2. Sedapat mungkin kendalikan serangga-serangga yang dapat menyebarkan kotoran kucing seperti lalat dan kecoak.
3. Jika Anda memiliki hewan peliharaan kucing, jangan biarkan berkeliaran di luar rumah yang memperbesar kemungkinan kontak dengan toxoplasma.
4. Mintalah anggota keluarga lain membantu membersihkan kucing Anda termasuk memandikannya, mencuci kandang dan tempat makannya.
5. Beri makan kucing Anda dengan makanan yang sudah dimasak dengan baik.
6. Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kesehatan kucing Anda.
7. Gunakan sarung tangan plastik ketika Anda harus membersihkan kotoran kucing.
8. Cuci tangan sebelum makan dan setelah berkontak dengan daging mentah, tanah atau kucing.

4.5 PENATALAKSANAAN

1. Ibu
Prognosa pada infeksi yang akut baik, kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat besar. Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine, asam folimik dan sulfonamide. Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral dan 1 gr sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun. Pyrimethamine adalah musuh dari asam folik dan oleh karena itu mungkinmemberikan efek teratogenik jika diberikan pada trimester I. Asam folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada hari yang berbeda untuk mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh Pyrimethamine.
Spiramycin adalah ejen lain yang digunakan pada pengobatan toxoplasma akut dan dapat diperoleh pada pusat pengontrolan penyakit di USA, ini biasa digunakan di Eropa dan karenanya tidak ada pengawasan yang baik terhadap kemanjuran obat ini.
2. Janin
Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari, dilanjutkan dosis 0,5 mg/kg/hr selam 21-30 hari dan sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun. Pada saat menginjak remaja diberikan asam folimik 2-6 mg secara IM atau oral 3 X seminggu walaupun pada saat bayi dia mendapatkan pyrimethamine. Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan merupakan infeksius, oleh karena itu tidak perlu diisolasi. Bayi baru lahir yang tiak menunjukan infeksi dan positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan dari ibunya secara transplasetal. Pada bayi yang Tidak ditemukannya temuan yang lain yang mencurigakan terjadinya infeksi congenital., harus dipantau, apabila tidak terinfeksi harus menunjukan adanya penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah blog ini bermanfaat bagi anda...?,

Ada kesalahan di dalam gadget ini